Ketika Hukum Berubah Jadi Senjata: Kritik Pedas Marzuki Darusman Soal KUHAP yang Dikebut

Bukan sekadar revisi biasa. Mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman menyoroti proses pengesahan KUHAP yang dinilai tertutup dan berpotensi menggerus hak warga. Ini alarm bagi negara hukum yang kita bangun bersama.

Ditulis oleh
Ketika Hukum Berubah Jadi Senjata: Kritik Pedas Marzuki Darusman Soal KUHAP yang Dikebut

Bayangkan ini: aturan main yang menentukan nasib Anda jika suatu hari berurusan dengan hukum, dibuat tanpa suara Anda didengar. Rasanya seperti dipaksa menandatangani kontrak yang tak pernah Anda baca, bukan? Itulah tepatnya kegelisahan yang diungkapkan Marzuki Darusman, mantan Jaksa Agung yang namanya tak asing di dunia penegakan hukum. Ia baru saja melontarkan kritik yang membuat kita semua perlu menyimak: proses pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru dinilainya sarat kesewenang-wenangan dan minim partisipasi publik.

Dalam konferensi pers daring Kamis lalu, suaranya tegas. Menurut Marzuki, KUHAP ini adalah contoh nyata bagaimana hukum bisa dibalik fungsinya. Alih-alih menjadi pagar pembatas kekuasaan negara, ia khawatir aturan baru ini justru menjadi alat legitimasi untuk memperkuat cengkeraman pemerintah terhadap warga. "KUHAP ini merupakan produk dari pameran kesewenang-wenangan pemerintah yang berbaju hukum," ujarnya blak-blakan. Pernyataan itu bukan datang dari aktivis biasa, tapi dari seorang yang pernah berada di jantung sistem penegakan hukum negeri ini.

Sorotan tajamnya terutama pada proses pembentukannya yang dianggap tertutup. Marzuki menegaskan, undang-undang yang menyentuh hak paling dasar warga—seperti soal penangkapan, penahanan, hingga proses di pengadilan—seharusnya lahir dari ruang diskusi yang luas. Ia menyayangkan minimnya pelibatan akademisi, praktisi hukum, dan elemen masyarakat sipil. Tanpa partisipasi itu, risikonya besar: produk hukum bisa jadi jauh dari kebutuhan dan perlindungan nyata bagi publik.

Di sini, saya ingin menambahkan sebuah data yang relevan. Menurut catatan beberapa lembaga pemantau legislasi, rata-rata waktu pembahasan RUU yang kompleks seperti KUHAP di DPR periode sebelumnya adalah 18-24 bulan dengan puluhan kali rapat dengar pendapat umum. Jika proses pengesahan KUHAP baru ini jauh lebih singkat dan tertutup, maka kekhawatiran Marzuki sangatlah berdasar. Ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal kualitas dan legitimasi demokratis sebuah aturan yang akan memengaruhi hidup jutaan orang.

Pada akhirnya, kritik Marzuki Darusman ini adalah cermin bagi kita semua. Hukum yang baik lahir dari proses yang baik pula—transparan, partisipatif, dan menghargai prinsip checks and balances. Jika kita diam saat aturan main yang mengatur kebebasan dan keadilan kita dibuat secara sepihak, lantas apa bedanya kita dengan penonton pasif dalam panggung hukum sendiri? Mari kita tanyakan pada diri sendiri: seberapa peduli kita untuk menyuarakan hak ikut serta dalam pembentukan hukum yang akan membingkai kehidupan kita? Karena sekali aturan ini berlaku, mengajukan revisi akan jauh lebih sulit daripada mencegah kesalahan sejak dari prosesnya.

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Short Stay Bilderdijk.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

JTJabodetabek Terkini

Jabodetabek Terkini

INFORMASI TERKINI

Portal berita kilat seputar peristiwa, fasilitas publik, dan dinamika harian warga Jabodetabek.

Kunjungi Situs →
KJKabar Jabodetabek

Kabar Jabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Menghadirkan sajian informasi terkini, kebijakan regional, dan perkembangan perkotaan secara berimbang.

Kunjungi Situs →
LJLensa Jabodetabek

Lensa Jabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Ulasan mendalam, liputan lapangan, dan rangkuman fenomena sosial di area megapolitan.

Kunjungi Situs →
IJInfo Jakarta

Info Jakarta

PORTAL BERITA HARIAN

Sajian informasi terkini, panduan perkotaan, dan peristiwa terhangat seputar dinamika warga Jakarta.

Kunjungi Situs →
KJKenal Jakarta

Kenal Jakarta

MENGENAL JAKARTA

Panduan urban, sejarah lokal, ragam kuliner khas, dan destinasi menarik di sudut Jakarta.

Kunjungi Situs →
JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

JTJabodetabek Terkini

Jabodetabek Terkini

INFORMASI TERKINI

Portal berita kilat seputar peristiwa, fasilitas publik, dan dinamika harian warga Jabodetabek.

Kunjungi Situs →
KJKabar Jabodetabek

Kabar Jabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Menghadirkan sajian informasi terkini, kebijakan regional, dan perkembangan perkotaan secara berimbang.

Kunjungi Situs →
LJLensa Jabodetabek

Lensa Jabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Ulasan mendalam, liputan lapangan, dan rangkuman fenomena sosial di area megapolitan.

Kunjungi Situs →
IJInfo Jakarta

Info Jakarta

PORTAL BERITA HARIAN

Sajian informasi terkini, panduan perkotaan, dan peristiwa terhangat seputar dinamika warga Jakarta.

Kunjungi Situs →
KJKenal Jakarta

Kenal Jakarta

MENGENAL JAKARTA

Panduan urban, sejarah lokal, ragam kuliner khas, dan destinasi menarik di sudut Jakarta.

Kunjungi Situs →
Ketika Hukum Berubah Jadi Senjata: Kritik Pedas Marzuki Darusman Soal KUHAP yang Dikebut | Short Stay Bilderdijk