Hidup di Zona Abu-Abu: Pelajaran Kepemimpinan dari Seorang Striker yang Tak Mencetak Gol
Di balik kritik pedas untuk Ramadhan Sananta tersembunyi pelajaran berharga tentang kepemimpinan, kepercayaan, dan kesuksesan yang tak terlihat. Mari belajar melihat melampaui angka.

Bayangkan sebuah orkestra yang memainkan simfoni paling megah. Biola bernyanyi, terompet bergema, dan penonton terpukau. Namun, di sudut panggung, seorang pemain perkusi hanya memukul drum sekali dalam dua menit. Apakah penonton menyadarinya? Mungkin tidak. Akankah konser itu sempurna tanpa dia? Tidak juga.
Sepak bola, seperti orkestra, adalah seni kolaborasi. Namun terlalu sering kita duduk di tribun dan hanya bertepuk tangan untuk pemain yang mencetak gol, mengabaikan mereka yang menabuh drum di balik layar. Kisah Ramadhan Sananta, yang baru-baru ini menjadi sasaran kritik tajam setelah kemenangan 4-0 Timnas Indonesia, adalah cermin sempurna untuk memahami fenomena ini. Dan di baliknya, ada sebuah pelajaran kepemimpinan yang mungkin belum pernah kita gali sebelumnya.
Membaca di Antara Baris: Bahasa Tersembunyi dari Kemenangan
Saat John Herdman, pelatih Timnas Indonesia, membela Sananta, dia tidak hanya melindungi anak asuhnya. Dia sedang mengajarkan kita sebuah bahasa baru—bahasa kontribusi yang tidak terucap. Dia berkata, pada intinya, bahwa Sananta dibayar bukan untuk menciptakan momen Instagramable, tetapi untuk menciptakan kemenangan. Dan kemenangan itu terjadi.
Mari kita ubah perspektif sejenak. Apa arti sebenarnya dari 'berharga' dalam sebuah tim? Apakah itu selalu tentang angka di papan skor? Riset dari Harvard Business Review tentang dinamika tim berkinerja tinggi menunjukkan bahwa kontributor paling penting sering kali adalah mereka yang membuat rekan-rekannya lebih baik, bukan yang menonjol secara individu. Mereka disebut 'role players'—orang-orang yang diam-diam memastikan mesin tim bekerja mulus.
Sananta, dalam konteks ini, adalah role player par excellence. Perannya dalam pressing intensif ala Herdman adalah fondasi dari serangan balik cepat yang mematikan. Tanpa dia, seluruh lini tengah akan kewalahan. Ini bukan interpretasi puitis, melainkan realitas taktis yang dipahami oleh pelatih profesional.
“Kita terlalu terobsesi dengan puncak gunung es, melupakan bahwa yang membuat gunung itu menjulang adalah fondasi yang tidak terlihat di bawah permukaan laut.” — Kata-kata ini mungkin tidak datang dari Herdman, tetapi semangatnya ada di setiap pembelaannya.
Pelajaran dari Meja Konferensi: Kepemimpinan yang Melihat ke Dalam
Sering kita menganggap kepemimpinan sebagai kemampuan untuk berteriak paling keras atau mengambil keputusan paling berani. Tapi Herdman menunjukkan sisi lain: kepemimpinan yang sabar, yang melihat potensi di balik kegagalan. Kita bisa belajar banyak dari bagaimana dia menghadapi kritik—bukan dengan defensif, tapi dengan penjelasan yang justru mencerahkan.
Dalam penelitian tentang 'growth mindset' dari Carol Dweck, kita diajarkan bahwa kesuksesan jangka panjang lahir dari ketahanan menghadapi kegagalan. Herdman tidak sedang memanjakan Sananta; dia sedang membangun ketahanan mental seorang pemain muda yang akan menghadapi tekanan lebih besar di masa depan. Saat dia berkata 'tidak membayar dia hanya untuk mencetak gol', dia sebenarnya berkata: 'Saya melihat sesuatu yang belum bisa kalian lihat, dan saya percaya proses ini.'
Kepercayaan adalah mata uang yang paling langka di dunia modern. Kita memberikannya kepada brand, kepada politisi, kepada teknologi, tetapi sering lupa memberikannya kepada sesama manusia yang berjuang di lapangan. Kritik pedas di media sosial bukanlah bentuk ketelitian analitis; ia adalah cermin ketidaksabaran. Dan ketidaksabaran, dalam sepak bola maupun bisnis, adalah racun bagi inovasi.
Menghidupkan Ide: Memahami Konsep Nilai Tak Terlihat dalam Karier
Dunia di luar lapangan hijau juga dipenuhi Sananta-Sananta. Ingatkah Anda dengan rekan kerja yang selalu datang paling awal untuk menyiapkan rapat, atau yang menulis dokumentasi terlengkap sehingga proyek bisa berjalan mulus? Mereka jarang mendapat pujian, tetapi ketika mereka tidak ada, seluruh sistem terasa hancur.
Contoh paling teladan di dunia sepak bola adalah Francesco Totti di AS Roma yang pernah bermain sebagai false nine, atau Roberto Firmino di Liverpool yang membuka ruang bagi Mohamed Salah untuk bersinar. Mereka adalah bukti bahwa nilai seseorang tidak pernah bisa direduksi menjadi satu dimensi. Tetapi di era media sosial yang serba cepat, kita sering lupa: yang kita lihat hanyalah jendela kecil dari sebuah rumah besar.
- Mengukur dampak, bukan output: Tanyakan, 'Apakah dia membuat tim menang?' bukan 'Apakah dia mencetak gol?'.
- Memberi ruang untuk gagal: Kesalahan adalah bahan bakar untuk pertumbuhan. Tampa kegagalan, tidak akan ada Sananta yang lebih baik.
- Merayakan peran pendukung: Seperti stagehand dalam teater, mereka yang bekerja di belakang layar adalah tulang punggung kesuksesan.
Dunia yang Butuh Lebih Banyak Fokus pada Proses
Studi tentang kepuasan atlet dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa atlet yang fokus pada proses (misalnya, melakukan pressing dengan benar) daripada hasil (mencetak gol) memiliki tingkat ketahanan mental yang lebih tinggi. Mereka juga lebih jarang mengalami burn out. Ini bukan hanya tentang sepak bola—ini adalah metafora kehidupan.
Ketika kita berhenti menilai diri sendiri dan orang lain hanya dari hasil akhir, kita mulai melihat keindahan usaha. Kita belajar menghargai perjuangan yang tidak selalu berakhir dengan sorak-sorai. Dan pada akhirnya, kita menjadi lebih manusiawi. Herdman mengajak kita untuk naik level: menjadi bangsa yang lebih cerdas dalam mendukung. Ini adalah panggilan untuk kita semua, bukan hanya untuk suporter bola.
Setiap kemenangan besar selalu diukir oleh banyak tangan. Sebagian tangan itu mungkin tidak tercatat dalam sejarah, tetapi tanpa mereka, sejarah tak akan pernah tertulis.
Jadi, lain kali ketika Anda melihat seorang striker yang gagal mencetak gol, atau seorang rekan kerja yang diam-diam bekerja keras, atau bahkan diri Anda sendiri yang merasa tidak dihargai, ingatlah: ada kekuatan luar biasa dalam kerja yang tidak terlihat. Sepak bola, seperti kehidupan, adalah permainan yang dimenangkan oleh mereka yang memahami bahwa pahlawan sejati tidak selalu yang paling terlihat.
Mari kita mulai percakapan yang berbeda. Mulai hari ini, cobalah untuk menjadi orang yang melihat lebih dalam. Pujilah seseorang atas usaha mereka, bukan hanya hasilnya. Dukunglah seseorang yang sedang berjuang, meskipun mereka belum menunjukkan hasil. Karena pada akhirnya, dukungan yang cerdas dan empatik adalah 'player ke-12' terbaik yang bisa dimiliki tim mana pun—dan itu dimulai dari Anda.
Artikel Terkait
sportKetika Keberanian Berbicara: Pelajaran Berharga dari Insiden Vega Ega Pratama
sportBangkit dari Hantaman: Pelajaran Kehidupan dari Momen Terlemparnya Vega Ega Pratama
sportMalam Bersejarah di GBK: Mengapa Kevin Diks dan Timnas Indonesia Siap Membungkam Bulgaria
sportRahasia Kemenangan 4-0 yang Tidak Akan Pernah Anda Lihat di Highlight
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.
https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etikBadan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.
https://www.bps.go.idKementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.
https://www.komdigi.go.idPusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.
https://lipi.go.idCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Short Stay Bilderdijk.





