Bukan Tentang Seragam, Tapi Tentang Hati: Prabowo dan Pelajaran Demokrasi yang Tak Pernah Usang

Di tengah desas-desus tentang 'bayang-bayang militer', Presiden Prabowo Subianto justru berbicara tentang kekuatan kritik sebagai penjaga demokrasi. Sebuah refleksi yang relevan di era di mana banyak pemimpin justru alergi terhadap koreksi.

Ditulis oleh
Bukan Tentang Seragam, Tapi Tentang Hati: Prabowo dan Pelajaran Demokrasi yang Tak Pernah Usang

Bayangkan sebuah ruang rapat di mana setiap kepala mengangguk setuju, setiap suara hanya mengulang, dan tidak ada satu pun yang berani berkata, 'Tunggu, saya pikir ada yang salah di sini.' Itulah gambaran kepemimpinan yang rapuh. Di sinilah letak ironi yang menarik: Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal yang latar belakangnya kerap dikaitkan dengan disiplin dan komando satu arah, justru berdiri di depan publik dan dengan lantang membela hak rakyat untuk mengkritiknya. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai teman yang menjaga agar langkahnya tidak tersandung.

Dalam sambutannya di acara Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Gelora Bung Karno, Senayan, Presiden ke-8 Indonesia ini secara gamblang menanggapi isu yang mengambang di permukaan: kekhawatiran sebagian pihak akan kembalinya 'militerisme' dalam gaya kepemimpinannya. Alih-alih defensif, responsnya justru membuka ruang dialog yang lebih luas tentang esensi demokrasi itu sendiri. Ia tidak sekadar meluruskan anggapan, tetapi mengajak kita semua melihat ulang, apa sebenarnya yang membuat sebuah kekuasaan menjadi otoriter? Apakah seragam yang dikenakan di masa lalu, atau ketertutupan terhadap suara yang berbeda di masa kini?

Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa kritik dan koreksi dari publik adalah bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi yang sehat. Bagi dia, masukan itu bukanlah serangan pribadi yang harus ditangkis, melainkan bentuk nyata kepedulian dan mekanisme pengawasan kolektif. Mekanisme inilah yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan di rel konstitusi dan hukum, tidak melenceng menjadi kekuasaan sewenang-wenang. "Kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan," ujarnya dengan nada yang terbuka. Pengakuan ini penting, karena ia menyadari bahwa secara alamiah, tidak semua orang merasa nyaman saat dikritik. Namun, justru ketidaknyamanan itulah yang sering kali menjadi penanda bahwa kita sedang didorong untuk bertumbuh dan menghindari kesalahan yang lebih besar.

Di sini, ada sebuah data unik yang patut kita renungkan. Menurut Indeks Demokrasi Economist Intelligence Unit (EIU), salah satu indikator yang membedakan demokrasi penuh dengan demokrasi cacat adalah 'budaya politik'. Bagaimana elite dan masyarakat memandang peran oposisi dan kritik. Di negara-negara dengan budaya politik yang matang, kritik dilihat sebagai oksigen bagi pemerintahan, bukan racun. Pernyataan Prabowo, jika dijalankan secara konsisten, bisa menjadi katalis untuk memperkuat indikator budaya politik kita. Ini adalah sebuah ujian nyata: bisakah narasi keterbukaan ini diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar melindungi ruang ekspresi dan perbedaan pendapat?

Opini saya, pernyataan ini adalah langkah simbolis yang sangat kuat. Di era post-truth dan polarisasi ekstrem, di mana banyak pemimpin dunia memilih untuk mengisolasi diri dalam gelembung pujian dan menyerang media sebagai 'musuh rakyat', sikap seorang pemimpin yang mengundang koreksi justru terasa seperti angin segar. Ini bukan sekadar retorika untuk meredam kekhawatiran, tetapi sebuah pengakuan bahwa tidak ada satu pun manusia, apalagi pemimpin negara, yang kebal dari salah langkah. Kekuatan sejati justru terletak pada keberanian untuk dikoreksi, bukan pada kemampuan untuk membungkam.

Jadi, di akhir tulisan ini, mari kita ajukan pertanyaan pada diri sendiri: Seberapa sering kita, sebagai warga negara, menggunakan hak untuk mengkritik dengan bijak dan konstruktif? Dan yang lebih penting, seberapa lapang dada kita menerima kritik dalam lingkup kehidupan kita sendiri—di keluarga, tempat kerja, atau komunitas? Demokrasi bukan hanya tentang pemilu lima tahun sekali, tapi tentang kebiasaan sehari-hari untuk mendengarkan, berdialog, dan berani diperbaiki. Pesan Prabowo di GBK itu mungkin tentang dirinya, tetapi cermin yang dihadapkannya adalah untuk kita semua. Pada akhirnya, demokrasi yang tangguh tidak dibangun di atas pundak seorang pemimpin saja, tetapi di atas kesadaran kolektif bahwa menjaga negara ini agar tetap di jalan yang benar adalah tugas bersama. Bukan dengan diam, tapi dengan suara yang bertanggung jawab.

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Short Stay Bilderdijk.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

JTJabodetabek Terkini

Jabodetabek Terkini

INFORMASI TERKINI

Portal berita kilat seputar peristiwa, fasilitas publik, dan dinamika harian warga Jabodetabek.

Kunjungi Situs →
KJKabar Jabodetabek

Kabar Jabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Menghadirkan sajian informasi terkini, kebijakan regional, dan perkembangan perkotaan secara berimbang.

Kunjungi Situs →
LJLensa Jabodetabek

Lensa Jabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Ulasan mendalam, liputan lapangan, dan rangkuman fenomena sosial di area megapolitan.

Kunjungi Situs →
IJInfo Jakarta

Info Jakarta

PORTAL BERITA HARIAN

Sajian informasi terkini, panduan perkotaan, dan peristiwa terhangat seputar dinamika warga Jakarta.

Kunjungi Situs →
KJKenal Jakarta

Kenal Jakarta

MENGENAL JAKARTA

Panduan urban, sejarah lokal, ragam kuliner khas, dan destinasi menarik di sudut Jakarta.

Kunjungi Situs →
JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

JTJabodetabek Terkini

Jabodetabek Terkini

INFORMASI TERKINI

Portal berita kilat seputar peristiwa, fasilitas publik, dan dinamika harian warga Jabodetabek.

Kunjungi Situs →
KJKabar Jabodetabek

Kabar Jabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Menghadirkan sajian informasi terkini, kebijakan regional, dan perkembangan perkotaan secara berimbang.

Kunjungi Situs →
LJLensa Jabodetabek

Lensa Jabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Ulasan mendalam, liputan lapangan, dan rangkuman fenomena sosial di area megapolitan.

Kunjungi Situs →
IJInfo Jakarta

Info Jakarta

PORTAL BERITA HARIAN

Sajian informasi terkini, panduan perkotaan, dan peristiwa terhangat seputar dinamika warga Jakarta.

Kunjungi Situs →
KJKenal Jakarta

Kenal Jakarta

MENGENAL JAKARTA

Panduan urban, sejarah lokal, ragam kuliner khas, dan destinasi menarik di sudut Jakarta.

Kunjungi Situs →